TA’LIMUL MUTA’LLIM GENERASI MILLENIAL : MENUJU GENERASI BERMARTABAT

A. MENGAPA MANUSIA WAJIB MENUNTUT ILMU?

Manusia sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah diberi keistimewaan yang sempurna, mereka diberi akal untuk berfikir, nafsu untuk menambah semangat/ motivasi dan penghias hidup serta naluri yang berguna menyaring kebaikan dan keburukan sesuatu. Dan untuk menyeimbangkan ketiganya manusia diperintahkan untuk memiliki ilmu pengetahuan. Ada beberapa alasan yang menjadikan manusia harus menuntut ilmu antara lain:

  1. Menuntut ilmu adalah perintah Allah karena manusia ditugaskan di muka bumi ini sebagai khalifah, sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al-Baqoroh : 30

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُواْ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاء وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS Al-Baqarah [2]: 30)

  1. Allah akan meninggikan derajat orang yang memiliki ilmu, sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al- Mujadillah : 11

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ. وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

 “Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, “Berlapang-lapanglah dalam majelis, ” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu, ” maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

  1. Dengan menuntut ilmu, akan membantumu meraih kesuksesan dunia terlebih kesuksesan di akhirat, sebagaimana Hadits Nabi:

ﻣَﻦْ ﺃَﺭَﺍﺩَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻓَﻌَﻠَﻴْﻪِ ﺑِﺎﻟْﻌِﻠْﻢِ، ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﺭَﺍﺩَ ﺍﻷَﺧِﺮَﺓَ ﻓَﻌَﻠَﻴْﻪِ ﺑِﺎﻟْﻌِﻠْﻢِ، ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﺭَﺍﺩَﻫُﻤَﺎ ﻓَﻌَﻠَﻴْﻪِ ﺑِﺎﻟْﻌِﻠْﻢِ

“Barang siapa yang menginginkan kehidupan dunia maka haruslah ia memiliki ilmu, dan barang siapa menginginkan kehidupan akhirat, maka haruslah dengan ilmu, dan barang siapa yang menginginkan kebahagiaan kedua-duanya maka haruslah dengan ilmu”.

  1. Ilmu bisa kamu investasikan sebagai amal jariyah, sebagaima Hadits Nabi:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila anak Adam (manusia) meninggal dunia, maka terputuslah semua (pahala) amal perbuatannya kecuali tiga macam perbuatan, iaitu sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakannya “(HR. Muslim).

  1. Orang berilmu takut kepada Allah SWT, sebagaimana firman Allah:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّـهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّـهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

“Hanyalah para ulama yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan takut yang sebenarnya dikalangan manusia, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Fatir[35]: 28)

 

  1. Orang berilmu dimudahkan jalannya ke surga, sebagaimana Hadits Nabi :

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699)

  1. Menuntun kepada akhlaq yang baik

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, beliau berkata:

  1. طالب العلم : إذا لم يتحل بالأخلاق الفاضلة فإن طلبه للعلم لا فائدة فيه

“Seorang penuntut ilmu, jika tidak menghiasi diri dengan akhlak yang mulia, maka tidak ada faidah menuntut ilmunya.”[1]

  1. Ahli ilmu lebih utama daripada ahli ibadah, sebagaimana Hadits Nabi yang menyatakan bahwa keutamaan ahli ilmu daripada ahli ibadah seperti bulan purnama di malam badar dan bintang di sekitarnya.
  1. Berpikir positif, seorang yang berilmua akan cenderung berfikir positif/ khusnudzon terhadap sebuah kejadian/ peristiwa.
  2. Memperbaiki Nasib

Pendidikan atau ilmu yang tinggi bisa merubah nasib keluarganya menjadi lebih baik. Bisa mempermudah dalam memperoleh pekerjaan, meningkatkan karir dan lain sebagainya. Itulah bukti bahwa dengan ilmu bisa memperbaiki nasib seseorang.

B. SYARAT MENCARI ILMU

Sebagai seorang Muslim, terlebih pelajar Muslim, mencari ilmu atau thalab al-’ilmi adalah suatu kewajiban. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr :

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ

Artinya: ”Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan”.

 Karena itu, seorang pencari ilmu atau pelajar harus memiliki bekal-bekal yang cukup, sehingga dia sukses dalam pencariannya.

Tersebut dalam Kitab Ta’lim Al-Muta’allim oleh Syaikh Az-Zarnuji, niat mencari ilmu khususnya ilmu agama setidaknya mencakup hal-hal berikut: Niat mengharapkan Ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala, untuk menggapai kebahagiaan akhirat, membasmi kebodohan bagi dirinya dan kebodohan orang-orang disekitarnya, menghidupkan agama, dan untuk menjaga keberlangsungan (kekekalan) agama.

Selain niat, Pencari Ilmu juga harus memiliki 6 (enam) hal sebagai modal dalam mencari ilmu.

Mengenai hal tersebut, Syaikh Az-Zarnuji di dalam kitabnya tersebut menuliskan sebuah syair dari Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu., dua bait syair itu berbunyi:

Bersarkan syair tersebut, maka syarat mencari ilmu adalah sbb :

  1. Kecerdasan

Ulama membagi kecerdasan menjadi dua yaitu:  muhibatun minallah (kecerdasan yang diberikan oleh Allah). Contoh, Seseorang yang memiliki hafalan yang kuat, dan muktasab ( kecerdasan yang didapat dengan usaha) misalnya dengan cara mencatat, mengulang materi yang diajarkan, berdiskusi dll.

  1. Bersungguh-sungguh

Barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan mendapatkan kesuksesan. Begitu pula dalam menuntut ilmu, kesungguhan adalah salah satu modal untuk menguasai ilmu yang sedang kita pelajari.

Pepatah mengatakan:  مَنْ جَدَّ وَجَدَ  “Siapa bersungguh-sungguh pasti dapat”.

  1. Kesabaran

Yang Ketiga Sabar dalam menuntut ilmu dibutuhkan kesabaran, sabar dalam belajar, sabar dalam diuji, sabar dalam segala hal yang kita alami dalam proses menuntut ilmu, sabar dalam menjalani hukuman sekalipun jika ada.

Hidup ini adalah ujian pasti Allah akan uji kesungguhan kita dalam menuntut ilmu, jikalau kita lolos dalam menjalaninya maka kita akan dinaikan tingkat kita dari yang sebelumnya.

Pepatah mengatakan, “Orang yang cerdas adalah orang yang tidak akan pernah berhenti belajar.

  1. Biaya

Dalam menuntut ilmu tentu butuh biaya (bekal), tidak mungkin menuntut ilmu tanpa biaya (bekal). Contoh para imam, Imam Malik menjual salah satu kayu penopang atap rumahnya untuk menuntut ilmu.

Imam Ahmad melakukan perjalanan jauh ke berbagai negara untuk mencari ilmu. Beliau janji kepada Imam Syafi’i untuk bertemu di Mesir akan tetapi beliau tidak bisa ke Mesir karena tidak ada bekal. Seseorang untuk mendapat ilmu harus berkorban waktu, harta bahkan terkadang nyawa.

  1. Bimbingan Guru

Salah satu hal yang paling penting dalam menuntut ilmu adalah bimbingan dari seorang guru. Terlebih belajar ilmu agama Islam, haruslah sesuai dengan bimbingan guru. Belajar agama Islam janganlah secara otodidak semata, karena akan menjadi bahaya jika salah memahami suatu teks ayat atau hadits.

Dikarenakan begitu pentingnya bimbingan guru, maka kita haruslah menghormati dan memuliakan guru. Hal ini semata-mata untuk mendapatkan ridha guru yang pada akhirnya akan mengantarkan kita kepada Allah.

  1. Waktu Yang Lama

Dalam menuntut ilmu butuh waktu yang lama. Tidak mungkin didapatkan hanya dalam hitungan bulan saja.

Imam Al-Baihaqi berkata:”Ilmu tidak akan mungkin didapatkan kecuali dengakita meluangkan waktu”.

Imam Al-Qadhi ditanya: “Sampai kapan seseorang harus menuntut ilmu?” Beliau menjawab: ”Sampai ia meninggal dan ikut tertuang tempat tintanya ke liang kubur.”

Semoga kita mampu memahami dan mengaplikasikan syarat menuntut ilmu dari Imam Ali bin Abi Thalib Radhiyallaahu ‘Anhu tersebut.

Jangan pernah patah semangat, wabil khusus untuk para pelajar Muslim, masih banyak yang harus kalian pelajari di dunia ini dengan waktu yang sangat terbatas.

C. ETIKA DALAM MENUNTUT ILMU

    1. Hakikat ilmu Fiqh dan keutamaannya

“Menuntut ilmu itu hukumnya wajib atas orang muslim, baik laki-laki maupun perempuan” Kewajiban menuntut ilmu dalam hadist di atas yang dimaksud adalah dalam hal ilmu ushuluddin (ilmu Agama dan  Fiqh). “Seutama-utamanya ilmu adalah ilmu agama dan seutama-utamanya amal adalah menjaganya” sehingga menjadi sebuah kewajiban bagi kaum muslim untuk memahami ilmu agama. Memahami hal yang paling fundamental dalam hidup, dari mana kita berasal? Untuk apa kita dihidupkan? Dan kemana kita akan pergi setelah kematian? Ketika seorang manusia sudah memahami hakikat hidupnya, maka dia akan berusaha untuk memahami rambu-rambu kehidupan yang tertuang secara tegas dalam Alqur’an dan Sunnah.

Kita hidup di dunia hanya sementara dan pada ahirnya akan pulang ke kampung akhirat, layaknya seseorang yang akan pergi ke sebuah tempat yang jauh, ketika dia sudah memahami arah dan jalan untuk menuju ke sana, maka dia akan dengan mudah sampai ke tujuan. Sedang jika tidak mengetahui arahnya, maka dia akan tersesat. Itulah analogi hidup  akan paham tidaknya seseorang mengenai hukum-hukum kehidupan (syari’at). Dia yang paham maka akan selamat dan dia yang tidak paham maka akan tersesat.

“Sesungguhnya satu orang yang menguasai ilmu Fiqh serta wira’i itu lebih kuat mengalahkan syetan dibanding 1000 orang ahli ibadah”

“Ketahuilah, ilmu itu sungguh merupakan perhiasan bagi pemiliknya, dia adalah pertanda bagi tiap-tiap orang yang terpuji”

  1. Niat Ketika Mencari Ilmu

Sebagaimana Hadits Nabi :

“Sesungguhnya amal perbuatan itu bergantung pada niat”

Banyak sekali amal yang berbentuk amalan dunia tetapi dikarenakan bagusnya niat bisa menjadi amalan akhirat. Begitu juga sebaliknya, banyak amalan akhirat yang dikarenakan jeleknya niatnya sehingga menjadi amalan buruk yang justru mengantarkannya ke neraka. Hendaknya para pencari ilmu berniat untuk mencari ridha Allah dan menghilangkan kebodohan dalam dirinya, mencari bekal kebahagiaan akhirat, member manfaat kepada orang lain dan mensyukuri nikmat atas diberikannya akal yang sempurna dari Allah.

Niat sangat mempengaruhi terbentuknya kepribadian pencari ilmu, ikhlaskan niatmu untuk raih Ridlo Tuhanmu, maka kehidupan dunia akan mudah untuk diraih.

  1. Memilih Ilmu, Guru dan Teman

Dalam menuntut ilmu di anjurkan untuk memilih ilmu yang baik dan dibutuhkan dalam perkara agama. Mendahulukan ilmu tauhid dan mengenal Allah dengan segala kesempurnaanNya. Dan tidak memprioritaskan ilmu yang baru seperti filsafat, mantiq, dll karena akan menyia-niyakan umur dan membuang waktu. Ilmu yang dipilih hendaknya ilmu yang mendatangkan manfaat bagi diri maupun orang lain, sesuaikan kebutuhan zaman dan minat pencari ilmu. Namun yang paling utama dan pertama adalah mendalami ilmu ketuhanan dan akhlaq.

Sedang dalam memilih guru di anjurkan guru tersebut adalah pandai, hati-hati dalam masalah halal haram, ahli wira’i, serta berusia lebih tua/ matang. Guru yang wira’i akan senantiasa menjaga kepribadiannya terhadap maksiat maupun hal-hal yang dilarang oleh negara dan moral.

Dan dalam memilih teman, sebaiknya memilih teman yang tekun, ahli wira’i, berwatak baik dan cepat memahami perkara. Jauhilah teman yang bersifat malas-malasan, pendek akalnya, banyak bicaranya, membuat kerusakan dan ahli fitnah. Dari teman kita yang baik maka dekatilah, karena sekali-kali kita pasti akan mendapatkan petunjuk dari Allah melalui dia.

  1. Memuliakan Ilmu dan Orang yang Mempunyai Ilmu

Orang yang menuntut ilmu tidak akan memperoleh ilmu yang bermanfaat kecuali dengan menghormati gurunya. “Aku adalah hambanya orang yang mengajariku walaupun satu huruf” [Ali bin Abi Thalib]. Termasuk adab dalam memuliakan guru adalah dengan menghormati anaknya dan orang yang berhubungan dengannya.

Ciri-ciri mengagungkan ilmu di antaranya adalah;

  1.  Memuliakan kitab dengan memegangnya dalam keadaan suci
  2.  Meletakkan kitab di tempat yang (terhormat)
  3.  Memperindah tulisan (catatan)
  4.  Tidak menulis dengan warna merah karena ulama salaf tidak melakukannya

Termasuk adab memuliakan ilmu adalah dengan menghormati teman, mendengarkan guru, tidak duduk di dekat guru kecuali terpaksa, menjaga ilmu dengan akhlaq mulia dan menjauhi sifat sombong karena ilmu dapat diperoleh dengan kerendahan hati.

  1. Sungguh-sungguh, Tidak Bosan dan Bercita-cita Kuat

Man Jadda Wa Jada; Siapa yang bersungguh-sungguh maka dia  akan peroleh hasilnya. “Orang-orang yang bersungguh-sungguh mengharap keridhaan Kami, maka akan Kami tunjukkan jalan kepada mereka”

“Bersungguh-sungguh itu mendekatkan perkara yang jauh dan membuka pintu yang terkunci” [Syeikh Sadiduddin As Syafi’i]

Belajarlah terus menerus jangan sampai bosan. Jagalah diri dari makanan haram. Jauhilah menunda waktu. Barangsiapa yang mempunyai cita-cita yang luhur tanpa disertai kesungguhan atau bersungguh-sungguh tapi tidak disertai dengan cita-cita yang luhur maka tidak akan berhasil kecuali ilmu yang sedikit.

“Orang yang berilmu itu selalu hidup walaupun jasadnya sudah tidak ada, tetapi orang bodoh yang hidup itu seperti mayat yang hidup”

 “Ada tiga orang yang Allah benci, mereka itu adalah yang banyak makan, pelit dan sombong.”

Banyak makan dibenci oleh Allah karena banyak makan menyebabkan penyakit dan buntunya otak. Sebagian ulama berpendapat kebanyakan makan dapat mengurangi kecerdasan.

  1. Mengawali Belajar, Ukuran dan Urutannya

Rasulullah bersabda, “Tidak ada suatu apapun yang didahului pada hari rabu kecuali untuk mencapai hakikat kesempurnaannya”

Iman Abu Hanifah selalu memulai suatu pekerjaan di Hari Rabu. Syaikhul Islam Burhanudin juga biasa menetapkan dan membiasakan mengawali belajar pada Hari Rabu. Begitupula dengan Syekh Abu Yusuf Al Hamdani yang selalu membiasakan setiap amal dari beberapa amal kebaikan di Hari Rabu.

Kadar ukuran belajar adalah semampunya, yakni yang mungkin bisa di hafal dan dikaji dengan mengulang dua kali, menambah setiap hari dengan satu kalimat walaupun membutuhkan waktu yang lama untuk menghafal dan mengkajinya, pelan-pelan dan memiliki harapan serta tekad bahwa dia mampu menghafal dan mengkajinya. Ketika sudah di ulang dua kali tetapi belum hafal maka di ulang terus hingga hafal. “Belajar satu huruf, mengulang seribu kali”. Sedikit materi jika sering di ulang maka akan lebih cepat paham dan berhasil.

Imam Abu Hanifah berkata, “Ketika aku mendapat ilmu maka aku akan bersyukur kepada Allah, ketika aku memahaminya maka aku akan berkata Alhamdulillah dan bertambahlah ilmuku, begitu juga seterusnya”

  1. Tawakkal

Orang yang menuntut ilmu wajib bertawakkal, tidak prihatin akan rizki dan tidak menyibukkan dirinya dengan rizki. Karena Allah akan mencukupinya. “Barangsiapa belajar ilmu agama di jalan Allah, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya dan memberi rizki tanpa di sangka-sangka”. Termasuk kesibukan hati dalam masalah rizki adalah makanan dan pakaian. “Sekali-kali janganlah engkau sibukkan dirimu dengan keinginanmu” [Imam Mansyur Al Hajjaj]

  1. Waktu yang Dapat Menghasilkan Ilmu

“Carilah ilmu dari kecil sampai ajal menjemput”. Waktu yang utama untuk belajar di antarnya adalah; 1) pada usia muda; 2) waktu sahur; dan 3) waktu antara maghrib dan isya. Syekh Muhammad bin Hasan tidak pernah tidur di malam hari, pada saat beliau mengantuk beliau akan meneteskan air pada mata beliau sehingga kantuknya hilang.

  1. Kelembutan dan Nasihat

Orang yang berilmu baiknya bersikap lembut, arif, memberikan nasihat yang baik dan tidak dengki. Semua orang alim menginginkan putranya, santrinya dan jamaahny menjadi orang yang alim pula, sehingga mereka mengajarkan dengan penuh kelembutan dan kesabaran. “Jauhkanlah pikiranmu dari prasangka buruk dan diamlah dengan kejernihan bathinmu dengan perkataan orang-orang bodoh”

  1. Mencari Keutamaan Ilmu

Sebaiknya orang yang menuntut ilmu itu mencari manfaatnya ilmu di setiap waktu, sampai menemukan keistimewaan dan kesempurnaan ilmu. “Malam itu waktu yang panjang, maka janganlah engkau mempersingkat waktu malam, siang itu terang, maka janganlah engkau kotori dengan dosa”

  1. Wira’i ketika Menuntut Ilmu

“Rasulullah bersabda, Barangsiapa dalam menuntut ilmu tidak wira’i maka Allah memberikan cobaan padanya satu dari tiga perkara; 1) Allah memberikan kematian pada umur muda; 2) Allah akan menempatkan ke suatu tempat (desa) yang orang-orang sekelilingnya banyak kebodohan; dan 3) Allah menjadikannya pesuruh sultan (pemimpin)”

Jika orang yang manuntut ilmu semakin wira’i maka ilmunya lebih manfaat dan belajarnya lebih mudah, serta faedahnya (hasilnya) lebih banyak. Hal yang termasuk perbuatan wira’i adalah;

  1. Menjaga diri dari makan yang kenyang
  2. Menjaga diri dari banyak tidur
  3. Menjaga diri dari berbicara yang tidak manfaat
  4. Menjaga diri dari makanan pasar
  5. Menjaga diri dari ghibah
  6. Menjauhi ahli ma’shiyat
  7. Duduk dalam keadaan menghadap kiblat ketika menuntut ilmu
  8. Tidak meremehkan adab sunnah
  9. Banyak membaca shalawat
  10. Khusuk dalam shalat
  1. Perkara yang Bisa Menjadikan Hafal dan Lupa

Hindari ha-hal yang menjadikan hilangnya hafalanmu. “Jauhi ma’shiyat maka hafalanmu akan kuat”. 

  1. Sumber dan penghambat rizki, penambah dan pemotong usia

Adapun hal-hal yang bisa mendatangkan rezeki antara lain: bangun pagi sekali, menulis dengan tulisan yang indah, bermuka ceria,  berbicara dengan perkataan yang baik, rajin sholat Dluha, sedekah, membaca surat Waqiah, baca sholawat, sholat sunnah fajar, sholat fardlu berjamaah dan masih banyak lagi hal-hal sunnah yang bisa di istiqomahkan pelaksanaannya.

D. PERILAKU YANG TIDAK BOLEH DILAKUKAN TERHADAP GURU SEBAGAI 

    BERIKUT :

  1. Tidak berjalan di depan guru
  2. Tidak menduduki tempat yang di duduki seorang guru
  3. Tidak mendahului bicara di hadapan guru kecuali dengan izinnya
  4. Tidak bertanya dengan pertanyaan yang membosankan guru
  5. Tidak mengganggu istirahat guru.
  6. Tidak menyakiti hati guru
  7. Jangan duduk terlalu dekat dengan guru

E.   TUNTUNAN  BAGI PENUNTUT ILMU

  1. Biasakan bangun malam untuk beribadah
  2. Menjaga wudhunya dengan istiqomah
  3. Belajar atau berdzikir dipermulaan (antara magrib dan isya) dan akhir malam (sahur)
  4. Perbanyak puasa sunnah dan menjalankan sholat sunnah
  5. Memperbanyak membaca shalawat atas nabi muhammad saw
  6. Menghadap kiblat ketika belajar atau berdzikir
  7. Memulai suatu pekerjaan hari rabu
  8. Biasakan bersiwak dan meminum madu
  9. Tidak melonjorkan kaki ke depan kiblat
  10. Menghindarkan makan ketumbar dan apel asam
  11. Hindarkan untuk melihat salib dan membaca tulisan pada nisan
  12. Hindarkan tidur setelah sholat shubuh

F. NASEHAT BAGI GENERASI MILLENIAL

    1. Perbaiki adab/ akhlaqmu sebelum ilmumu, karena orang beradab itu pasti berilmu, tapi orang berilmu belum tentu memililki adab. Baik adab kepada Robb, guru, orang tua, ilmu dan lingkungan sekitarnya.
    2. Biarlah otakmu ke Jerman tapi hatimu tetapkan pada Masjidil Haram, selalu mengaharap Ridlo Allah dalam menuntut ilmu. Selalu tanam keimanan dimanapun kalian berada.
    3. Pendidikan bukan hanya transfer pengetahuan tapi lebih dari itu, perbaiki karaktermu sebagai orang terdidik.
    4. Jauhi hal-hal makshiyat agar mudah dalam menerima ilmu.
    5. Selektiflah dalam memilih teman pergaulan, lingkungan dan pergunakan waktumu selagi masih muda.

Sumber : https://mgmppaismasmkjatim.com/talimul-mutallim-generasi-millenial-menuju-generasi-bermartabat/