SEKILAS INFO
: - Minggu, 31-05-2020
  • 5 bulan yang lalu / Selamat datang di Website Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Parengan. Website ini di maksudkan sebagai salah satu sarana publikasi dan informasi tentang kegiatan di SMA Negeri 1 Parengan.

Kisah sahabat Nabi, Abu Dujanah, adalah kisah nyata seorang hamba yang taat, yang lebih menjaga perasaan tetangganya, dibandingkan dirinya sendiri dan bahkan keluarganya. Abu Dujanah sangat paham bahwa ia dan keluarganya tak mau jatih pada kehinaan dan dosa karena berselisih dengan tetangganya hanya masalah sebiji kurma.

Abu Dujanah bahkan rela lebih memilih mengeluarkan buah kurma yang telah dimasukkan ke dalam mulut anaknya kerana lapar, dibandingkan ia dan seluruh keluarganya berselisih dengan tetangganya, melahirkan dosa dan permusuhan, hingga kemudian mendapat hukuman dari Allah kelak. Abu Dujanah rela anaknya dan seluruh anggota keluarganya kelaparan.

Di sisi lain, ia juga tak mau ketinggalan berjamaah subuh bersama Rasulullah setia hari. Maka ketika ia buru-buru meninggalkan masjid sesaat setelah shalat selesai, tak lain tujuannya adalah untuk menyelamatkan dirinya, anak-anaknya, juga keluarganya, dari kemunafikan tetangganya, pemilik pohon kurma.

Ibadah yang dilakukan Abu Dujanah, disamping melahirkan kesalihan individual, juga mengandung nilai-nilai sosial. Sikap memuliakan tetangga yang dilakukan Abu Dujanah adalah perilaku yang lahir dari dalam dirinya karena ketaatannya kepada Allah. Disamping ia salih secara individual (dengan taat beribadah, sayang pada keluarga), ia juga salih secara sosial (tidak mau berselisih dengan tetangga).

Puasa yang kita lakukan selama sebulan penuh di bulan Ramadhan, sejatinya adalah latihan diri dan penempaan diri dalam rangka melahirkan kesalihan secara sosial (setelah salih individual). Puasa harusnya mampu menjadikan kita lebih baik, lebih peduli, lebih toleran, lebih mampu mendahulukan kepentingan orang lain dibandingkan dengan kepentingan diri sendiri.

Semua kita tentu ingat dengan kisah sahabat Umar, ketika ia bergegas pergi ke masjid untuk shalat berjamaah bersama Rasulullah. Dalam perjalanan, ia melihat seorang tua yang berjalan pelan sekali. Sebagai bentuk hormat Umar kepadanya, ia tak mendahului orang tua itu dan lebih memilih berjalan di belakangnya, padahal iqamah telah terdengar dan shalat akan segera dimulai.

Apa yang dilakukan Umar adalah salah satu bentuk kesalihan sosial. Salih individual lalu akan dengan sendirinya melahirkan kesalihan sosial.

Mari kita kaji salah satu ayat dalam Alquran, yang mengajarkan kepada kita bagaimana seseorang harus salih individual terlebih dahulu, barulah kemudian salih secara sosial.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ارْكَعُوْا وَاسْجُدُوْا وَاعْبُدُوْا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ۚ۩ ٧٧

“Wahai orang-orang yang beriman! Rukuklah, sujudlah, dan sembahlah Tuhanmu; dan berbuatlah kebaikan, agar kamu beruntung”.

Dalam tafsir versi Kemenag, dijelaskan bahwa Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman agar melakukan setidaknya tiga hal berikut.

Pertama, mengerjakan salat pada waktu-waktu yang telah ditentukan, lengkap dengan syarat-syarat dan rukun-rukunnya. Pada ayat ini salat disebut dengan “ruku`” dan “sujud”, karena ruku` dan sujud itu merupakan ciri khas dari salat dan termasuk dalam rukun-rukunnya.

Kedua, menghambakan diri, bertobat kepada Allah, dan beribadah kepada-Nya merupakan perwujudan dari keimanan di hati sanubari yang telah merasakan kebesaran, kekuasaan dan keagungan Allah, karena diri manusia sangat tergantung kepada-Nya. Hanya Dialah yang menciptakan, memelihara kelangsungan hidup dan mengatur seluruh makhluk-Nya. Beribadah kepada Tuhan ada yang dilakukan secara langsung, seperti salat, puasa bulan Ramadhan, menunaikan zakat dan menunaikan ibadah haji. Ada pula ibadah yang dilakukan tidak secara langsung, seperti berbuat baik kepada sesama manusia, tolong menolong, mengolah alam yang diciptakan Allah untuk kepentingan manusia.

Ketiga, mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik, seperti memperkuat hubungan silaturrahmi, berbudi pekerti yang baik, hormat menghormati, kasih-mengasihi sesama manusia. Termasuk melaksanakan perintah Allah.

Jika manusia mengerjakan tiga macam perintah di atas, maka mereka akan berhasil dalam kehidupan memperoleh kebahagiaan ketentraman hidup, dan di akhirat mereka akan memperoleh surga yang penuh kenikmatan.

Ayat berikutnya menjelaskan lebih luas.

هُوَ سَمّٰىكُمُ الْمُسْلِمِيْنَ ەۙ مِنْ قَبْلُ وَفِيْ هٰذَا لِيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ شَهِيْدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِۖ فَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَاعْتَصِمُوْا بِاللّٰهِ ۗهُوَ مَوْلٰىكُمْۚ فَنِعْمَ الْمَوْلٰى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ ࣖ ۔ ٧٨

… Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang muslim sejak dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur’an) ini, agar Rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka laksanakanlah salat; tunaikanlah zakat, dan berpegangteguhlah kepada Allah. Dialah Pelindungmu; Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong (Qs. Al-Hajj/22: 78).

Attabiq Lutfi menyebutkan bahwa, pada ayat ini, Allah memberikan perintah kepada kita orang yang beriman, agar mampu membangun kesalihan personal dan sosial secara bersamaan agar senantiasa dalam kemenangan, rukuk dan sujud merupakan cermin tertinggi dari pengabdian seseorang kepada Allah. Sedangkan “berbuat kebaikan” merupakan indikasi kesalihan sosial.

Salih sosial lahir setelah seseorang mampu salih secara personal (individual). Puasa yang kita lakukan di bulan Ramadhan selama sebulan penuh, sejatinya mengajarkan kepada kita bagaimana beratnya perjuangan hidup. Semua kita akan merasakan perihnya lapar dan haus. Apa yang selama ini dialami oleh saudara-saudara kita yang setiap hari selalu berusaha untuk sekadar bertahan hidup mencari sesuap nasi, bahkan sampai kelaparan dan menderita, semuanya dapat kita rasakan saat kita berpuasa.

Bertahan untuk tidak makan dan minum serta segala sesuatu yang membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari, adalah lelaku batin yang harus dijalani oleh semua kita, oleh hamba yang beriman saat Ramadhan. Jika tidak terbiasa, waktu ini akan terasa begitu lama dan berjalan begitu lambat. Maka di sinilah sebenarnya letak latihan itu, kesalihan personal (individual) seseorang ditempa untuk ditunjukkan kepada semua, bahwa kesalihan sosial sebentar lagi akan nampak dan berdampak pada lingkungan sekitar (tetangga dan orang terdekat).

Semua kita tentu selalu mengharapkan yang terbaik. Jika puasa kita baik, maka apa yang lahir dari puasa itu akan baik pula.

Puasa adalah latihan menempa diri.

Puasa juga sarana melatih kepekaan sosial.

Puasa merupakan bagian dari cara merasakan penderitaan orang lain.

Puasa mampu melahirkan sikap sosial dan empati, kepada diri sendiri, juga lingkungan.

 

Sumber : https://mgmppaismasmkjatim.com/puasa-dan-kesalihan-sosial/#more-396

TINGGALKAN KOMENTAR

Video

Pengumuman

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA Negeri 1 Parengan TA. 2020/2021

Pengumuman Kelulusan 2020

15 Siswa SMA Negeri 1 Parengan Lolos SNMPTN 2020

Maps Sekolah

Hubungi Kami whatsapp