SEKILAS INFO
: - Minggu, 31-05-2020
  • 5 bulan yang lalu / Selamat datang di Website Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Parengan. Website ini di maksudkan sebagai salah satu sarana publikasi dan informasi tentang kegiatan di SMA Negeri 1 Parengan.

“Dan orang-orang yang berkata: “YaTuhan kami,anugrahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Furqan:74)

Agama Islam adalah agama yang sempurna karena memiliki tuntunan yang dengan sangat rinci mengatur segala sisi kehidupan manusia dan senantiasa menganjurkan umatnya untuk menjalin hubungan baik dengan sesama maupun dengan alam sekitarnya. Sesuai kodratnya sebagai makhluk sosial, sepanjang hidupnya seorang manusia tidak dapat hidup sendiri dan selalu membutuhkan kehadiran orang lain, misalnya keluarga.

Keluarga dalam Islam merupakan rumah tangga yang dibangun dari suatu pernikahan antara seorang pria dan wanita yang dilaksanakan sesuai syariat agama Islam dan harus memenuhi syarat serta rukun nikah. Pernikahan merupakan tahapan awal dalam membangun rumah tangga Islam menuju keluarga sakinah, mawaddah dan warahmah.  Hal ini disebutkan dalam firman Allah SWT berikut ini :

 “Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya, ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Qs.Ar-Ruum : 21)

Salah satu tujuan pernikahan adalah untuk memperoleh keturunan, yang kelak akan menjadi generasi baru yang diharapkan menjadi lebih baik dari generasi sebelumnya. Oleh sebab itu, sebuah pernikahan harus dipersiapkan secara matang karena secara tidak langsung pernikahan merupakan tahap awal pembentukan sebuah generasi baru.

Sebuah keluarga, yang umumnya terdiri atas ayah, ibu dan anak,  adalah lembaga terkecil dalam masyarakat di mana seseorang tumbuh dan mendapatkan pendidikan yang pertama dan utama dari orang tuanya agar kelak bisa menjalankan kehidupannya sendiri,  baik kehidupan sebagai pribadi maupun kehidupan bermasyarakat. Pendidikan yang didapatkan dalam keluarga kelak akan sangat berpengaruh terhadap kualitas pribadi dan kemampuan seseorang dalam menjalani hidupnya.

Ayah adalah pemimpin dalam keluarga, yang berkewajiban membimbing seluruh anggota keluarganya untuk meraih ridho Allah SWT.  Peran ibu tidak kalah pentingnya.  Ibaratnya, ibu adalah madrasah pertama bagi seorang anak yang lahir dalam sebuah keluarga. Sebaliknya, anak adalah amanah yang diberikan Allah kepada hambaNya. Oleh sebab itu, sudah selayaknya ayah dan ibu (orang tua) memperlakukan amanah tersebut dengan sebaik-baiknya karena kelak dia pasti dimintai pertanggungjawaban atas amanah tersebut.

Seorang pakar parenting, Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari1, menyatakan tugas setiap orang tua pada dasarnya adalah menyiapkan anaknya agar bisa mandiri sehingga suatu saat mereka siap jika harus berpisah dari orang tuanya (misalnya saat sekolah, melanjutkan pendidikan ke luar kota, menikah atau saat orang tua meninggal).  Orang tua wajib menyadari bahwa masa itu pasti akan tiba dan tidak mungkin dihindari atau dielakkan.  Oleh sebab itu mempersiapkan kemandirian seorang anak juga merupakan suatu hal yang harus dipersiapkan secara matang.

Kemandirian seorang anak tidak datang dengan sendirinya. Butuh bimbingan dan komitmen kuat dari orang tua agar bisa menyiapkan generasi mandiri. Generasi madiri yang dimaksud di sini adalah generasi yang tangguh dalam menjalani kehidupan dengan atau tanpa kehadiran orang tua,  generasi yang tidak hanya mampu bertahan hidup tapi juga mampu membuat keputusan-keputusan yang penting bagi hidupnya, generasi yang mampu beradaptasi terhadap perubahan dan berinteraksi secara sehat dengan lingkungan sekitarnya juga generasi yang senantiasa berusaha mengkondisikan dirinya untuk melaksakanan semua perintah Allah SWT dan menjauhi semua laranganNya.

Pada kenyataannya, tidak sedikit orang tua yang terjebak pada rasa cinta yang membabi buta pada anaknya sehingga tanpa sadar telah menunjukka rasa cintanya dengan cara yang salah.  Atas nama cinta, banyak terjadi kasus orang tua yang mengabaikan tahap perkembangan yang seharusnya dilalui seorang anak untuk mencapai tahap kedewasaan (maturity).  Mulai dari belajar melakukan hal paling remeh hingga rumit, misalnya makan, berpakaian, menyiapkan keperluan pribadi, bersosialisasi dalam lingkungan, dan bahkan membuat keputusan penting bagi kebaikan dirinya.  Semua itu membutuhkan proses panjang hingga bisa mencapai tahapan yang diharapkan. Tanpa pemberian kesempatan, maka bisa dikatakan bahwa orang tua telah merampas kesempatan seorang anak untuk tumbuh dewasa dan mandiri.  Bukan cinta dan sayang namanya jika perwujudannya justru membunuh dan menghancurkan anak secara perlahan.

Adapun peran keluarga dalam menyiapkan generasi mandiri antara lain:

  1. Menanamkan nilai-nilai akhlak dan budi pekerti luhur

Nilai-nilai akhlak dan budi pekerti yang luhur akan menjadi pondasi kuat bagi seorang anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang kuat, bertanggung jawab serta mandiri.

  1. Memberikan teladan dan kesempatan kepada anak untuk menjalani tahap perkembangannya secara alami,

Orang tua harus berbesar hati memberikan teladan dan kesempatan kepada anak untuk menjalani tahap perkembangannya secara alami, tanpa harus ditahan atau sebaliknya dipaksa lebih cepat dari yang seharusnya. Teladan dan kesempatan tersebut merupakan bekal yang sangat penting bagi seorang anak untuk menjalani hidupnya sendiri kelak.  Perlu diingat bahwa bekal yang yang dibutuhkan seorang anak pada dasarnya bukan hanya keterampilan untuk menghasilkan materi saja, tetapi juga keterampilan untuk beradaptasi dan bersosialisasi dengan lingkungan.

Bisa dimulai dalam keseharian misalnya anak diberi kesempatan makan bersama orang tuanya, agar bisa meneladani bagaimana seharusnya makan yang diawali dengan berdoa, tanpa bicara selama makan, dengan rapi tanpa berceceran, makan dengan penuh rasa bersyukur,dll.

  1. Memberikan pendampingan dan rasa nyaman

Anak harus dipahamkan bahwa semua tahapan yang harus dilalui dalam rangka meraih kemandirian adalah semata-mata demi kebaikan anak sendiri. Kemandirian adalah tanda telah diraihnya kedewasaan diri.

  1. Memberikan tanggung jawab pada anak untuk melakukan suatu kewajiban keseharianbeserta konsekuensi jika tanggung jawab tersebut tidak dilaksanakan.

Misalnya, setelah selesai belajar maka anak harus membereskan peralatan sekolahnya. Jika ternyata hal tersebut tidak dilakukan maka orang tua tidak perlu buru-buru turun tangan jika misalnya ada peralatan sekolah yang tertinggal di rumah pada saat jam sekolah. Tergopoh gopoh mengantarkan peralatan sekolah yang tertinggal bisa jadi suatu perwujudan cinta, tapi sayangnya hal tersebut akan membuat anak gagal memahami sebuah kesalahan. Biarkan saja anak belajar menerima konsekuensi dari keteledorannya dan kemudian mengambil pelajaran dari kesalahan tersebut.

Semoga ikhtiar yang bisa kita lakukan mendapatkan ridho dari Allah SWT dan semoga keturunan kita kelak akan menjadi penyenang hati orang tuanya.  Aamiin.

 

Sumber : https://mgmppaismasmkjatim.com/mempersiapkan-generasi-mandiri/#more-407

TINGGALKAN KOMENTAR

Video

Pengumuman

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA Negeri 1 Parengan TA. 2020/2021

Pengumuman Kelulusan 2020

15 Siswa SMA Negeri 1 Parengan Lolos SNMPTN 2020

Maps Sekolah

Hubungi Kami whatsapp